Laboratorium Kebinekaan Bahasa dan Sastra


Selamat datang di wahana laboratorium kebinekaan bahasa dan sastra, Bidang Pengembangan Strategi Kebahasaan, Pusat Pengembangan Strategi dan Diplomasi Kebahasaan, Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Citeureup, Kabupaten Bogor, Jawa Barat.

Laboratorium kebinekaan bahasa dan sastra berjejaring teknologi informasi di PPSDK (Pusat Pengembangan Strategi dan Diplomasi Kebahasaan), Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan ini dirancang agar dapat dimanfaatkan untuk pemelajaran para siswa, mahasiswa, dan masyarakat Indonesia juga untuk memahamkan pada  semua lapisan anak bangsa bagaimana semangat keberagaman bahasa dan sastra milik bangsa Indonesia ini dapat dirangkai melalui semangat kebinekatunggalikaan, yaitu mencintai bahasa persatuan adalah bahasa Indonesia.  Pada akhirnya, laboratorium kebinekaan ini diharapkan dapat mendorong pemahaman siswa, mahasiswa, dan masyarakat di tengah keberagaman  ada semangat untuk mempersatukannya dengan wawasan kebangsaan yang satu disertai semangat merawat nilai kesatuan dengan mencintai bahasa Indonesia.

Laboratorium kebinekaan bahasa dan sastra merupakan rumah bahasa dan sastra yang dirancang berisi mengenai kajian dan visualisasi keberagaman bahasa serta sastra untuk mengakomodasi dan  menjembatani keutuhan negara kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Keberagaman bahasa dan sastra daerah di Indonesia  menurut pemetaan dan kekerabatan bahasa (Badan Bahasa, 2017) yang telah diverifikasi bahwa jumlah bahasa daerah di Indonesia yang terpetakan, yaitu 652 bahasa daerah.

Kekayaan bahasa dan sastra daerah di seluruh Indonesia yang begitu beragam tersebut bukanlah alat pembeda keberadaan NKRI tetapi dibalik keberagaman bahasa dan sastra justru menjadi alat pemersatu bangsa serta merangkai mosaik NKRI.  Isu-isu kewilayahan, disintegrasi bangsa, kerukunan antarwarga bangsa, solidaritas, kesantunan, dan sejenisnya  sering menjadi pemicu lunturnya semangat persatuan dan kesatuan di antara warga bangsa di Indonesia. Sikap dan rasa solidaritas yang selama ini terbangun dengan semangat gotong royong serta  cinta tanah air lambat laut mulai terkikis dengan munculnya peradaban teknologi  yang menggerus fungsi  dan peran bahasa, sastra, dan budaya daerah di Indonesia yang memiliki falsafah kehidupan yang adiluhung.

Fakta  cukup menarik menunjukkan bahwa laboratorium kebinekaan bahasa dan sastra ini didukung oleh lebih dari 300 kelompok etnik atau suku bangsa di Indonesia tepatnya 1.340 suku bangsa (BPS, 2010) bahkan menurut publikasi LIPI (1972) ada 6.127 pulau di Indonesia yang sudah memiliki nama. Data pada 1987 (Pusat Survei dan Pemetaan ABRI/ Pussurta ABRI) menyatakan  bahwa jumlah pulau di Indonesia sebanyak 17.508, di mana 5.707 di antaranya telah memiliki nama.  Banyaknya suku bangsa, kelompok etnik, dan jumlah pulau di Indonesia menggambarkan betapa kayanya bumi Indonesia. Hanya saja pengelolaan keberagaman tersebut belum dikelola dengan bijaksana dan baik.

Ekosistem keberagaman bahasa dan sastra seluruh Indonesia harus dikelola dengan baik. Semangat mempersatukan keberagaman bahasa dan sastra dalam bingkai kebinekatunggalikaan  setidaknya akan menjadi modal utama dalam pengelolaan laboratorium  kebinekaan  tersebut.  Variasi dialek dan bahasa daerah di Indonesia jika dikelola dengan baik serta didukung oleh peralatan teknologi informasi serta dianalisis hubungan kekerabatan antarbahasa dan antardialek akan menjadi alat pemersatu dan pembelajaran seluruh lapisan anak bangsa di Indonesia.

Keberadaan mayoritas penutur bahasa Jawa, Sunda, Minang, Batak, Madura, Melayu, dan lain lain bukan menjadi penghalang untuk merangkai tali kebinekatunggalikaan.  Pada prinsipnya bahasa-bahasa daerah di Indonesia berjumlah 652 tersebut satu sama lain dapat dihubungkan kekerabatannya. Persebaran bahasa-bahasa  daerah  di Indonesia yang begitu luas dan banyak tersebut menjadi tantangan bagi seluruh lapisan anak bangsa apalagi yang bekerja di bidang pengembangan dan pembinaan bahasa sudah seharusnya mendokumentasikannya secara baik.

Selain itu, kekayaan bahasa daerah di Indonesia yang jumlahnya berkisar 652 (Pemetaan Bahasa, 2017) perlu segera didokumentasikan sebelum terjadi kepunahan karena menurut laporan dan kajian UNESCO setiap 14 hari ada bahasa daerah di dunia mengalami kepunahan karena penuturnya sudah tidak ada serta tidak peduli terhadap bahasa daerahnya. Untuk itu, perlu segera diwujudkan dokumentasi kebahasaan yang komprehensif dalam wahana laboratorium kebinekaan bahasadan sastra berjejaring teknologi informasi yang berisi pemahaman kebinekaan bahasa dan sastra dipersatukan oleh semangat berbineka tunggal ika.